Desa Kuno di Anhui selatan – Xidi dan Hongcun

Desa Kuno di Anhui selatan – Xidi dan Hongcun

Anhui_Province_Dongzhi_County

Desa Kuno di Anhui selatan – Xidi dan HongcunXidi dan Hongcun adalah dua desa tradisional yang masih menampilkan kesan pemukiman pedesaan, suatu hal telah banyak menghilang atau berubah selama abad terakhir ini. Pengaturan jalan, arsitektur, dekorasi, dan integrasi rumah dengan sistem tata air menyeluruh adalah contoh unik yang masih bertahan hingga kini. (© Pusat Warisan Budaya UNESCO)
Menjadi Situs Warisan Dunia sejak: 2000
Advertisements

Borobudur – Indonesia

Borobudur

Borobudur-perfect-buddha.jpg

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga 婆羅浮屠 (Hanyu Pinyin: pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin.

Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut
Denah Borobudur membentuk Mandala, lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha.
Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara
Stupa Borobudur.jpg
Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)
Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

Arca Mudra Melambangkan
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 10016277.jpg Bhumisparsa mudra Memanggil bumi sebagai saksi
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 60013976.jpg Wara mudra Kedermawanan
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Amitabha TMnr 10016276.jpg Dhyana mudra Semadi atau meditasi
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Amogasiddha TMnr 10016274.jpg Abhaya mudra Ketidakgentaran
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Vairocana TMnr 10015947.jpg Witarka mudra Akal budi
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 60019836.jpg Dharmachakra mudra Pemutaran roda dharma  
Foto pertama Borobudur dari tahun 1873. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.
Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp.
Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO
Lihat Juga Tulisan Borobudur di World Wonders dan Wisata Candi

Angkor Wat – Kuil Menakjubkan Bangsa Khmer

Angkor Wat – Kuil Menakjubkan Bangsa Khmer

 aerial-view-of-angkor-wat
  Kuil Angkor Wat dibangun oleh suku bangsa Khmer dimana kemegahannya membentang dari Myanmar hingga Vietnam. Pada zaman dahulu, Angkor Wat adalah rumah bagi sekitar 750.000 orang dimana Angkor Wat ini luasnya kira-kira hampir sama dengan New York saat ini. Raja Suryavarman II membina Angkor Wat menurut kepercayaan Hindu yang meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, dengan itu menara tengah Angkor Wat adalah menara tertinggi dan merupakan menara utama dalam binaan Angkor Wat.
angkor-wat1
  Sebagaimana dongeng gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mengelilingi dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat yang sepanjang setengah kilometer dihiasi susur pemegang tangan dan diapit oleh laut buatan manusia yang dikenali sebagai Barays.
  Jalan masuk ke kuil Angkor Wat melalui pintu gerbang, mewakili jambatan pelangi yang menyambungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa. Angkor Wat berada dalam keadaan yang baik berbanding dengan kuil lain di dataran Angkor disebabkan Angkor Wat telah ditukar menjadi kuilBuddha dan digunakan secara berterusan apabila kepercayaan Buddha menggantikan kepercayaan Hindu di Angkor pada abad ke 13. Kuil Angkor pernah dijajah oleh Siam pada tahun 1431.
  Selama berabad-abad, daerah di sekitar delta Sungai Mekong dan Kamboja Tengah, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Jawa (sekarang Indonesia). Tapi pada tahun 802, Pangeran Khmer Jayavarman II, yang dilahirkan dan dibesarkan di istana Kerajaan Jawa pada masa dinasti Sailendra, menyatakan bahwa wilayah yang didiami oleh orang Khmer, lepas dari Jawa. Dan kemudian mendirikan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Angkor.
  Pangeran Javawarman II dinobatkan sebagai Devaraja (tuhan raja) oleh seorang pendeta Brahman. Di tahun-tahun berikutnya, Jayavarman berkali-kali memindahkan ibu kotanya. Pertama-tama di Indrapura (sebelah timur Kampong Cham), kemudian ke Wat Phou (sekarang Laos ujung selatan) dan terakhir di Rolous (dekat Angkor). Pada tahun 889Yasovarman I menjadi raja Khmer. Dia mulai membangun Angkor, yang kemudian berganti nama menjadi Yasodharapura. RajaYasovarman memerintah sampai tahun 900.
  Pada tahun 1002Suryavarman I merebut tahta kerajaan. Di bawah pemerintahannya, wilayah kerajaan Angkor bertambah luas sampai ke wilayah-wilayah yang sekarang adalah negara Thailand dan Laos.
Pada tahun 1080, setelah Angkor ditaklukan oleh kerajaan Champa,gubernur provinsi paling utara Khmer menyatakan dirinya sebagai raja, dengan menyandang nama Jayavarman VI. Dia memerintah kerajaan Khmer baru dari provinsi paling utara Khmer. Pada tahun 1113, seorang keponakan Jayavarman VI dinobatkan menjadi raja kerajaaan Khmer. Dia memilih untuk menyandang nama Suryavarman II. Pada masa pemerintahannya, Angkor Wat dibangun.
  Pada tahun 1177, Angkor kembali ditaklukan oleh pasukan Champa.Jayavarman VII, keponakan dari Suryavarman II, menjadi raja pada tahun 1181 dan kemudian menaklukan Vijaya, ibu kota kerajaan Champa (sekarang Vietnam). Di bawah pemerintahan Jayavarman VII, wilayah Khmer bertambah luas, bahkan yang terluas dari yang pernah dimiliki. Wilayahnya mencapai Thailand dan Laos, bahkan sampai ke Myanmar, Malaysia dan Vietnam. Jayavarman VII berganti agama dari Hindu ke Buddha dan menjadikan agama Buddha sebagai agama nasional yang baru.
  Pada tahun 1200Angkor Thom sebagai ibu kota kerajaan yang baru, mulai dibangun. Pembangunan Angkor Thom yang sangat besar, telah menguras sumber-sumber kekayaan kerajaan Khmer. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya, Khmer mengalami masalah dalam perekonomian. Pada dekade-dekade berikutnya, mulai kelihatan adanya kemunduran di Angkor. Di Barat,kerajaan-kerajaan Thai mendominasi kekuatan-kekuatan politik. Di Timur,kerajaan-kerajaan Vietnam semakin menanjak. Sebagai negara kecil, Kamboja mencoba bertahan.
  Kerajaan Khmer sangat bergantung pada kerajaan-kerajaan Tai dan Vietnam. Agar dapat terbebas dari tindasan salah satu negara penakluk, Khmer membutuhkan pertolongan dari negara kuat lainnya. Tapi Khmer harus membayar seluruh hutang-hutangnya sebagai pembayaran ganti rugi. Pada tahun 1432, setelah Angkor ditaklukkan kembali oleh kerajaan Thai, orang-orang Khmer meninggalkan ibu kota dan tinggal di dalam hutan.

UNESCO : 21 new sites World Heritage

The 34th session of the World Heritage Committee meeting in Brasilia since 25 July today finished its consideration of nominations for the World Heritage List and the List of World Heritage in Danger.

Meeting under the Chairmanship of the Minister of Culture of Brazil, João Luiz da Silva Ferreira, the Committee inscribed 21 new sites, including 15 cultural, 5 natural and 1 mixed properties Out of 32 sites submitted from Thirty-three submitted for Consideration.

15 Cultural Sites

1. The Jantar Mantar, in Jaipur (India),

 Jantar mantar built by Maharaj Jai Singh in the period 1727-1733 in jaipur

Jantar mantar built by Maharaj Jai Singh in the period 1727-1733 in jaipur

Brihat Samrat Yantra with repaired plaster and lime wash

Brihat Samrat Yantra with repaired plaster and lime wash

2. Australian Convict Sites (Australia)

Australian convict sites for World Heritage list 2010

Australian convict sites for World Heritage list 2010

3. São Francisco Square in the Town of São Cristovão (Brazil)

Aerial View, the city and the rivers Vaza-Barris and Paramopama, São Francisco Square in the town of São Cristovão

São Francisco Square in the town of São Cristovão

Courtesty:unesco.org

4. Historic Monuments of Dengfeng, in the “Centre of Heaven and Earth” (China)

Historic Monuments of Dengfeng

Historic Monuments of Dengfeng

5. Episcopal City of Albi (France)

Episcopal-City-of-Albi

Episcopal-City-of-Albi

6.Sheikh Safi al-Din Khānegāh and Shrine Ensemble in Ardabil (Islamic Republic of Iran)

Shaykh Ishaq Safi Shrine

Shaykh Ishaq Safi Shrine

7.Tabriz Historic Bazaar Complex (Islamic Republic of Iran)

Tabriz-bazar

Tabriz-bazar

8.Bikini Atoll, nuclear tests site (Marshall Islands)

Bikini  Atoll

Bikini Atoll

9.Camino Real de Tierra Adentro (Mexico)
Camino

10.Prehistoric Caves of Yagul and Mitla in the Central Valley of Oaxaca (Mexico)

Prehistoric Rock Art Site, Mexican Caves and Ancient Sarazm Added to Unesco World Heritage List

Prehistoric Rock Art Site, Mexican Caves and Ancient Sarazm Added to Unesco World Heritage List

11.Seventeenth-century Canal Ring Area inside the Singelgracht, Amsterdam (Netherlands)

Seventeenth century canal ring area of Amsterdam

Seventeenth century canal ring area of Amsterdam

12.Historic Villages of Korea: Hahoe and Yangdong (Republic of Korea)

Hahoe Folk Village

Hahoe Folk Village

13. At Turaif District in ad-Dir’iyah (Saudi Arabia)

At Turaif District in ad-Dir'iyah

At Turaif District in ad-Dir’iyah

14. Proto-Urban site of Sarazm(Tajikistan)
sarazm

15.Central Sector of the Imperial Citadel of Thang Long – Hanoi(Viet Nam)

Central Sector of the Imperial Citadel of Thang Long Hanoi

Central Sector of the Imperial Citadel of Thang Long Hanoi

5 Natural sites

1. China Danxia (China)

China Danxia landform

China Danxia landform

2.Pitons, Cirques and Remparts of Reunion Island (France)

Pitons cirques and remparts of Reunion Island

Pitons cirques and remparts of Reunion Island

3.Phoenix Islands Protected Area (Kiribati)

Kiribati Broken Bridge

Kiribati Broken Bridge

4. Putorana Plateau (Russian Federation)

Putorana Plateau

Putorana Plateau

5. Central Highlands of Sri Lanka (Sri Lanka)

Central highlands srilanka

Central highlands srilanka

1 Mixed Site

1. Papahānaumokuākea (United States of America)

Sumber Gambar : Komputer (UNESCO  21 new sites World Heritage)

Danxia Cina

Danxia Cina Cina

1

Danxia Cina adalah nama yang diberikan di Cina untuk lanskap yang dikembangkan di lapisan sedimentasi terrigenous merah kontinental dan dipengaruhi oleh kekuatan endogen (termasuk kenaikan) dan kekuatan eksogen (termasuk pelapukan dan erosi). Situs yang terdaftar sebagai Warisan Dunia ini terdiri atas enam daerah yang terletak di zona subtropis Cina bagian barat daya. Daerahnya memiliki tebing merah spektakuler dan berbagai bentuk lahan erosi, termasuk pilar alam yang menakjubkan, menara, jurang, lembah, dan air terjun. Lanskap kasar ini telah membantu melestarikan hutan subtropis daun lebar yang selalu hijau, dan banyak spesies flora dan fauna, sekitar 400 di antaranya dianggap langka atau terancam punah. (© Pusat Warisan Budaya UNESCO)
Menjadi Situs Warisan Dunia sejak: 2010
Relief Danxia de Chine site_1335_0011-500-375-20100803161919 site_1335_0010-500-375-20100803161822 site_1335_0009-500-375-20100803161551 site_1335_0008-500-375-20100803154042 site_1335_0007-500-375-20100803153513 site_1335_0006-500-375-20100803152520 site_1335_0005-375-500-20100803152109 site_1335_0004-500-375-20100803151948 Relief Danxia de Chine Relief Danxia de Chine
Danxia Landform, China3 Danxia Landform, China4 Danxia Landform, China5 Danxia Landform, China6 danxia-landform-03_leading f6e6cf6d-94a8-408a-a52b-7690c9614c7a Danxia Landform Danxia Landform, China1 Danxia Landform, China2

Situs Manusia Peking di Zhoukoudian Cina

Situs Manusia Peking di Zhoukoudian Cina

 Zhoukoudian 1
Penelitian ilmiah di situs ini, yang berjarak 42 km sebelah barat daya Beijing, masih berjalan. Sejauh ini, penelitian tersebut telah mengarah ke penemuan tulang belulang Sinanthropus pekinensis, yang hidup pada zaman Plestosen Pertengahan, bersama dengan berbagai objek, dan tulang belulang Homo sapiens sapiens yang berasal dari tahun 18.000–11.000 SM. Situs ini bukan hanya pengingat istimewa tentang kelompok manusia prasejarah di benua Asia, namun juga menggambarkan proses evolusi. (© Pusat Warisan Budaya UNESCO)
Menjadi Situs Warisan Dunia sejak: 1987
unduhanManusia Peking (bahasa Tionghoa: 北京猿人; Hanzi tradisional: 北京猿人; bahasa Tionghoa: Běijīng Yuánrén), disebut jugaSinanthropus pekinensis (kini Homo erectus pekinensis), adalah suatu contoh dari Homo erectus. Suatu kelompok spesimen fosilnyaditemukan pada tahun 1923-1927 sewaktu ekskavasi di Zhoukoudian (Chou K’ou-tien) di dekat Beijing (saat itu disebut Peking), Cina. Temuan tersebut telah ditanggali berasal dari sekitar 500 ribu tahun yang lalu [1], walaupun kajian lanjutan mengajukan umur 600 sampai 780 ribu tahun yang lalu
Lebih 70 tahun yang lalu, para arkeolog menemukan Manusia Peking di Zhou Koudian, suatu penemuan yang mengejutkan dunia. Berikut ini kami perkenalkan petilasan “Manusia Peking” yang merupakan warisan dunia.
Zhoukoudian 2

Petilasan Manusia Peking di Zhou Koudian terletak di Gunung Longgu atau Gunung Tulang Naga, 48 kilometer sebelah barat daya kota Beijing. Daerah tersebut merupakan tempat pegunungan bersambung dengan dataran. Di Gunung Longgu terdapat banyak gua alam baik yang besar maupun yang kecil. Di antaranya terdapat sebuah gua alam yang panjangnya 140 meter dari timur ke barat. Gua tersebut dijuluki orang sebagai “Gua Manusia Kera”. Tahun 1921, seorang sarjana Swedia bernama Johann Gunnar Anderssonm menemukan barang-barang peninggalan manusia purba di gua tersebut, antara lain, bekas penggunaan api manusia kera. Dengan demikian, gua itu dinamakan oleh para arkeolog sebagai “situs pertama Zhou Koudian”. Tahun 1929, arkeolog Tiongkok Fei Wenzhong berhasil menggali tulang tempurung kepala “Manusia Peking”, suatu sensasi pada waktu itu. Yang menyesalkan ialah, tulang tempurung “Manusia Peking” hilang tanpa diketahui jejaknya dalam perang agresi Jepang terhadap Tiongkok selama Perang Dunia II. Tulang tempurung kepala itu sampai sekarang masih belum diketahui di mana beradanya.

Peninggalan penggunaan api yang ditemukan di situs pertama Zhou Koudian memajukan beberapa ratus ribu tahun lebih dini sejarah pemakaian api oleh manusia. Di petilasan itu ditemukan 5 lapisan abu api, 3 tumpuk abu dan banyak tulang panggang. Lapisan abu maksimal mencapai 6 meter. Kesemua penemuan itu menunjukkan bahwa “Manusia Peking” tidak hanya tahu memakai api, tapi juga pandai memelihara bara api penyulut api.

Di petilasan Zhou Koudian tergali pula puluhan ribu buah alat dari batu yang berbentuk kecil. Alat batu pada masa awal agak kasar dan besar. Pada masa pertengahan, alat batu berbentuk lebih kecil di mana muncul alat batu yang runcing seperti pisau. Pada masa akhir, alat batu yang dipakai “Manusia Peking” menjadi lebih kecil lagi dengan tusuk batu sebagai alat khas pada masa itu. Penemuan itu menunjukkan bahwa “Manusia Peking” sudah pandai memilih batu untuk membuat alat batu yang dapat dijadikan senjata atau alat produksi primitif.

Barang-barang yang digali di petilasan Zhou Koudian membuktikan bahwa “Manusia Peking” bermukim di daerah Zhou Koudian pada zaman 700 sampai 200 ribu tahun yang lalu. Memetik hasil tumbuh-tumbuhan merupakan isi utama penghidupannya dan berburu “Manusia Peking” waktu itu. “Manusia Peking” adalah manusia primitif yang muncul pada masa antara evolusi kera kuno dan manusia. Penemuan itu mempunyai nilai penting dalam penelitian ilmu biologi, ilmu sejarah dan sejarah perkembangan manusia.

Penemuan “Manusia Peking” menyediakan banyak bukti yang kuat bagi penelitian asal usul manusia. Penemuan tersebut serta penelitian yang dilakukan berdasarkan penemuan itu mengakhiri perdebatan yang berlangsung selama setengah abad lalu, yaitu apakah “Manusia Berdiri” termasuk kera atau manusia sejati. Fakta membuktika bahwa dalam zaman fajar sejarah umat manusia, memang terdapat tahap “Manusia Berdiri”, yang merupakan nenek moyang “Manusia Berakal” yang muncul kemudian. “Manusia Berdiri” berada pada tahap pertengahan evolusi antara kera dan manusia. Sampai sekarang, tubuh tipikal “Manusia Berdiri” tetap berpatokan “Manusia Peking” yang ditemukan di Zhou Koudian. Petilasan Zhou Koudian tetap merupakan situs peninggalan manusia zaman kuno yang berbahan paling banyak dan bernilai paling tinggi di dunia untuk masa itu.

Zhoukoudian_Museum_July2004

Manusia Peking dan Zhou Kou Dian

Zhou Kou Dian terletak 50 km sebelah barat daya kota Beijing. Pada tahun 1921, ada dua sarjana, seorang dari Swedia bernama Johan Gunnar Andersson, dan yang lainnya dari Austria bernama Otto Zdansky menemukan dua buah gigi manusia purba di dapur pembakar kapur petani. Pada tahun 1927, seorang professor Kanada yang bekerja di Institut Kedokteran Xiehe Beijing mengemukakan terori tentang “manusia Peking” dinamakan pula “manusia kera Peking” atau “manusia kera Tiongkok”, disingkat “manusia Peking.” 2 Desember tahun 1929, paleo antropolog Tiongkok, Pei Wenzhong berhasil menggali sebuah batok kepala manusia Peking yang utuh di sebuah gua Zhou Kou Dian.Desa Zhou Kou Dian dikelilingi perbukitan di sebelah barat laut, sedang sebelah tenggara adalah tanah subur yang luas ta bertepi. Dulu di sini pernah mengalir sebuah sungai yang dinamakan Sungai Zhou Kou, tapi kini sudah kering. Di desa ini ada dua bukit batu kaplur yang dinamakan Bukit Tulang Naga karena banyak menghasilkan tumbuhan bahan obat yang dinamakan Tulang Naga.

Penemuan ini sempat menggemparkan kalangan keilmuan di dunia. Kemudian dalam penggalian-penggalian arkeolog setelah itu, para sarjana Tiongkok dan asing telah menemukan 6 batok kepala, 12 pecahan batok kepala dan 150 lebih gigi di Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian. Selain itu ditemukan pula lebih 100 ribu alat-alat batu yang pernah digunakan “manusia Peking” untuk menyalakan api dan berburu.

Sejak itu desa kecil pegunungan ini mulai dikenal dunia, dan oleh paleo antropolog dijadikan basis untuk meneliti asal usul manusia, dan menguak rahasia manusia purba yang pernah hidup di sini setengah juta tahun yang silam.

Penggalian secara sistematis di patilasan Zhou Kou Dian dilakukan antara tahun 1927 dan 1937, kemudian terhenti dalam waktu panjang karena kekacauan perang. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949 sampai tahun 1966, para sarjana Tiongkok dan asing melakukan kerjasama dalam penggalian di sana, pada waktu itu, sejumlah sarjana terkenal berkumpul di sini melakukan penggalian dan menemukan fosil-fosil yang menunjukkan bahwa jauh pada masa 400 ribu sampai 500 ribu tahun yang silam, manusia Peking sudah mulai mencari kehangatan dan membakar makanan dengan menyapakan api.

Mereka tinggal di gua dan berburu dengan alat dari batu. Volume otak manusia Peking lebih kecil daripada manusia zaman modern. Dari batok kepala manusia Peking yang tergali ternyata volume otaknya hanya 1059 miligram, sedang manusia zaman modern 1400 miligram. Manusia purba itu sudah bisan berjalan dengan berdiri tegak. Dihitung berdasarkan fosil yang tergali, tingga badan lelaki rata-rata 156 sentimeter, sedang wanita 144 sentimeter. Usia harapan mereka sangat pendek, 70% meninggal sebelum berusia 14 tahun, jarang sekali yang bisa mencapai 50 tahun.

Penggalian di gua Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian telah menemukan tiga batok kepala manusia purba yang dinamakan manusia gua bukit yang hidup kira-kira 27 ribu tahun silam. Kondisi fisik mereka nyata sekali mengalami kemajuan nyata daripada manusia kera Peking. Mereka sudah menguasai teknik penyalaan api, pengeboran dan pengasahan, serta mempunyai konsepsi tentang keindahan. Menurut para paleo antropolog, manusia gua bukit sudah bisa mengadakan upacara pemakaman bagi yang meninggal. Fosil manusia gua bukit adalah data benda penting tentang evolusi manusia.

Zhoukoudian_Museum_July2004a

Istana Musim Panas, sebuah Taman Kekaisaran di Beijing Cina

Istana Musim Panas, sebuah Taman Kekaisaran di Beijing Cina

Istana Musim Panas, sebuah Taman Kekaisaran di BeijingIstana Musim Panas di Beijing – pertama kali dibangun pada tahun 1750, sebagian besar hancur dalam perang tahun 1860, dan dipugar pada tahun 1886 – merupakan sebuah mahakarya desain taman lanskap Cina. Bentang alam perbukitan dan perairan terbuka dikombinasikan dengan fitur artifisial seperti paviliun, aula, istana, kuil, dan jembatan membentuk sebuah kumpulan harmonis dengan nilai estetika yang luar biasa. (© Pusat Warisan Budaya UNESCO)
Menjadi Situs Warisan Dunia sejak: 1998
capture8 capture2 capture4