Situs Manusia Peking di Zhoukoudian Cina

Situs Manusia Peking di Zhoukoudian Cina

 Zhoukoudian 1
Penelitian ilmiah di situs ini, yang berjarak 42 km sebelah barat daya Beijing, masih berjalan. Sejauh ini, penelitian tersebut telah mengarah ke penemuan tulang belulang Sinanthropus pekinensis, yang hidup pada zaman Plestosen Pertengahan, bersama dengan berbagai objek, dan tulang belulang Homo sapiens sapiens yang berasal dari tahun 18.000–11.000 SM. Situs ini bukan hanya pengingat istimewa tentang kelompok manusia prasejarah di benua Asia, namun juga menggambarkan proses evolusi. (© Pusat Warisan Budaya UNESCO)
Menjadi Situs Warisan Dunia sejak: 1987
unduhanManusia Peking (bahasa Tionghoa: 北京猿人; Hanzi tradisional: 北京猿人; bahasa Tionghoa: Běijīng Yuánrén), disebut jugaSinanthropus pekinensis (kini Homo erectus pekinensis), adalah suatu contoh dari Homo erectus. Suatu kelompok spesimen fosilnyaditemukan pada tahun 1923-1927 sewaktu ekskavasi di Zhoukoudian (Chou K’ou-tien) di dekat Beijing (saat itu disebut Peking), Cina. Temuan tersebut telah ditanggali berasal dari sekitar 500 ribu tahun yang lalu [1], walaupun kajian lanjutan mengajukan umur 600 sampai 780 ribu tahun yang lalu
Lebih 70 tahun yang lalu, para arkeolog menemukan Manusia Peking di Zhou Koudian, suatu penemuan yang mengejutkan dunia. Berikut ini kami perkenalkan petilasan “Manusia Peking” yang merupakan warisan dunia.
Zhoukoudian 2

Petilasan Manusia Peking di Zhou Koudian terletak di Gunung Longgu atau Gunung Tulang Naga, 48 kilometer sebelah barat daya kota Beijing. Daerah tersebut merupakan tempat pegunungan bersambung dengan dataran. Di Gunung Longgu terdapat banyak gua alam baik yang besar maupun yang kecil. Di antaranya terdapat sebuah gua alam yang panjangnya 140 meter dari timur ke barat. Gua tersebut dijuluki orang sebagai “Gua Manusia Kera”. Tahun 1921, seorang sarjana Swedia bernama Johann Gunnar Anderssonm menemukan barang-barang peninggalan manusia purba di gua tersebut, antara lain, bekas penggunaan api manusia kera. Dengan demikian, gua itu dinamakan oleh para arkeolog sebagai “situs pertama Zhou Koudian”. Tahun 1929, arkeolog Tiongkok Fei Wenzhong berhasil menggali tulang tempurung kepala “Manusia Peking”, suatu sensasi pada waktu itu. Yang menyesalkan ialah, tulang tempurung “Manusia Peking” hilang tanpa diketahui jejaknya dalam perang agresi Jepang terhadap Tiongkok selama Perang Dunia II. Tulang tempurung kepala itu sampai sekarang masih belum diketahui di mana beradanya.

Peninggalan penggunaan api yang ditemukan di situs pertama Zhou Koudian memajukan beberapa ratus ribu tahun lebih dini sejarah pemakaian api oleh manusia. Di petilasan itu ditemukan 5 lapisan abu api, 3 tumpuk abu dan banyak tulang panggang. Lapisan abu maksimal mencapai 6 meter. Kesemua penemuan itu menunjukkan bahwa “Manusia Peking” tidak hanya tahu memakai api, tapi juga pandai memelihara bara api penyulut api.

Di petilasan Zhou Koudian tergali pula puluhan ribu buah alat dari batu yang berbentuk kecil. Alat batu pada masa awal agak kasar dan besar. Pada masa pertengahan, alat batu berbentuk lebih kecil di mana muncul alat batu yang runcing seperti pisau. Pada masa akhir, alat batu yang dipakai “Manusia Peking” menjadi lebih kecil lagi dengan tusuk batu sebagai alat khas pada masa itu. Penemuan itu menunjukkan bahwa “Manusia Peking” sudah pandai memilih batu untuk membuat alat batu yang dapat dijadikan senjata atau alat produksi primitif.

Barang-barang yang digali di petilasan Zhou Koudian membuktikan bahwa “Manusia Peking” bermukim di daerah Zhou Koudian pada zaman 700 sampai 200 ribu tahun yang lalu. Memetik hasil tumbuh-tumbuhan merupakan isi utama penghidupannya dan berburu “Manusia Peking” waktu itu. “Manusia Peking” adalah manusia primitif yang muncul pada masa antara evolusi kera kuno dan manusia. Penemuan itu mempunyai nilai penting dalam penelitian ilmu biologi, ilmu sejarah dan sejarah perkembangan manusia.

Penemuan “Manusia Peking” menyediakan banyak bukti yang kuat bagi penelitian asal usul manusia. Penemuan tersebut serta penelitian yang dilakukan berdasarkan penemuan itu mengakhiri perdebatan yang berlangsung selama setengah abad lalu, yaitu apakah “Manusia Berdiri” termasuk kera atau manusia sejati. Fakta membuktika bahwa dalam zaman fajar sejarah umat manusia, memang terdapat tahap “Manusia Berdiri”, yang merupakan nenek moyang “Manusia Berakal” yang muncul kemudian. “Manusia Berdiri” berada pada tahap pertengahan evolusi antara kera dan manusia. Sampai sekarang, tubuh tipikal “Manusia Berdiri” tetap berpatokan “Manusia Peking” yang ditemukan di Zhou Koudian. Petilasan Zhou Koudian tetap merupakan situs peninggalan manusia zaman kuno yang berbahan paling banyak dan bernilai paling tinggi di dunia untuk masa itu.

Zhoukoudian_Museum_July2004

Manusia Peking dan Zhou Kou Dian

Zhou Kou Dian terletak 50 km sebelah barat daya kota Beijing. Pada tahun 1921, ada dua sarjana, seorang dari Swedia bernama Johan Gunnar Andersson, dan yang lainnya dari Austria bernama Otto Zdansky menemukan dua buah gigi manusia purba di dapur pembakar kapur petani. Pada tahun 1927, seorang professor Kanada yang bekerja di Institut Kedokteran Xiehe Beijing mengemukakan terori tentang “manusia Peking” dinamakan pula “manusia kera Peking” atau “manusia kera Tiongkok”, disingkat “manusia Peking.” 2 Desember tahun 1929, paleo antropolog Tiongkok, Pei Wenzhong berhasil menggali sebuah batok kepala manusia Peking yang utuh di sebuah gua Zhou Kou Dian.Desa Zhou Kou Dian dikelilingi perbukitan di sebelah barat laut, sedang sebelah tenggara adalah tanah subur yang luas ta bertepi. Dulu di sini pernah mengalir sebuah sungai yang dinamakan Sungai Zhou Kou, tapi kini sudah kering. Di desa ini ada dua bukit batu kaplur yang dinamakan Bukit Tulang Naga karena banyak menghasilkan tumbuhan bahan obat yang dinamakan Tulang Naga.

Penemuan ini sempat menggemparkan kalangan keilmuan di dunia. Kemudian dalam penggalian-penggalian arkeolog setelah itu, para sarjana Tiongkok dan asing telah menemukan 6 batok kepala, 12 pecahan batok kepala dan 150 lebih gigi di Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian. Selain itu ditemukan pula lebih 100 ribu alat-alat batu yang pernah digunakan “manusia Peking” untuk menyalakan api dan berburu.

Sejak itu desa kecil pegunungan ini mulai dikenal dunia, dan oleh paleo antropolog dijadikan basis untuk meneliti asal usul manusia, dan menguak rahasia manusia purba yang pernah hidup di sini setengah juta tahun yang silam.

Penggalian secara sistematis di patilasan Zhou Kou Dian dilakukan antara tahun 1927 dan 1937, kemudian terhenti dalam waktu panjang karena kekacauan perang. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949 sampai tahun 1966, para sarjana Tiongkok dan asing melakukan kerjasama dalam penggalian di sana, pada waktu itu, sejumlah sarjana terkenal berkumpul di sini melakukan penggalian dan menemukan fosil-fosil yang menunjukkan bahwa jauh pada masa 400 ribu sampai 500 ribu tahun yang silam, manusia Peking sudah mulai mencari kehangatan dan membakar makanan dengan menyapakan api.

Mereka tinggal di gua dan berburu dengan alat dari batu. Volume otak manusia Peking lebih kecil daripada manusia zaman modern. Dari batok kepala manusia Peking yang tergali ternyata volume otaknya hanya 1059 miligram, sedang manusia zaman modern 1400 miligram. Manusia purba itu sudah bisan berjalan dengan berdiri tegak. Dihitung berdasarkan fosil yang tergali, tingga badan lelaki rata-rata 156 sentimeter, sedang wanita 144 sentimeter. Usia harapan mereka sangat pendek, 70% meninggal sebelum berusia 14 tahun, jarang sekali yang bisa mencapai 50 tahun.

Penggalian di gua Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian telah menemukan tiga batok kepala manusia purba yang dinamakan manusia gua bukit yang hidup kira-kira 27 ribu tahun silam. Kondisi fisik mereka nyata sekali mengalami kemajuan nyata daripada manusia kera Peking. Mereka sudah menguasai teknik penyalaan api, pengeboran dan pengasahan, serta mempunyai konsepsi tentang keindahan. Menurut para paleo antropolog, manusia gua bukit sudah bisa mengadakan upacara pemakaman bagi yang meninggal. Fosil manusia gua bukit adalah data benda penting tentang evolusi manusia.

Zhoukoudian_Museum_July2004a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s